gKuxJTc9wzxiAA8SLrRNu2qhDmr6N19JwxbBvkBa

Penentuan Kriteria Saham Pilihan dalam Investasi Saham

Kriteria Saham Pilihan dalam Investasi Saham
AlbinusTejoS.com - Halo sobats...

Kembali saya sharing tentang saham ya sobats, kebetulan laporan keuangan sedang keluar, jadi sambil baca-baca laporan keuangan, sekalian saja saya buat catatan yang di kemudian hari akan berguna bagi saya, dan mudah-mudahan bagi sobats yang juga ingin investasi saham.

Nah sobats, 
Dalam melakukan investasi saham kita perlu memiliki suatu kriteria saham pilihan yang akan kita koleksi dalam portofolio kita. 

Hal ini kita lakukan agar kita tidak merugi dalam aktivitas investasi saham kita. 
Ingat bahwa tujuan kita ingin berinvestasi saham adalah untuk menjadi kaya di kemudian hari. 

Dan seperti yang selalu disampaikan oleh salah satu investor saham individu paling sukses di Indonesia, yaitu Pak Lo Kheng Hong; Jika kita memilih saham secara sembarangan atau ikut-ikutan, tanpa tahu apa yang sebenarnya kita beli itu. Kita sedang menuju pada kebangkrutan! 

Mirip seperti saat kita melakukan trading forex, untuk menghindari kebangkrutan, maka langkah awal yang harus kita lakukan adalah memperjelas tujuan. Jadi apa nih tujuan investasi saham kita?

Tujuan Investasi Saham

Jika bicara soal tujuan investasi khususnya di saham, mungkin ada banyak pendapat yang bisa kita kumpulkan.

Ada yang investasi saham dengan tujuan untuk mendapatkan capital gain dari pergerakan harga saham; 
Ada yang bertujuan untuk memperoleh passive income melalui deviden; 
Ada juga yang bertujuan agar terlihat keren atau mengikuti perkembangan jaman, karena sekarang sudah jamannya investasi saham.

Tidak ada tujuan yang salah atau yang paling benar, itu tergantung dari pribadi kita masing-masing.

Semua orang bebas menentukan tujuannya masing-masing. 

Tapi sobats, disini tujuan saya investasi saham adalah untuk memperoleh passive income ya sobats.

Saya ingin, saat target keuangan saya tercapai, saya bisa menjadi boss atas diri saya sendiri. 🤭
Tetap memperoleh penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidup keluarga, dengan tanpa harus bekerja, memiliki banyak waktu, dan kebebasan untuk ngapain aja... 😂

Sehingga setelah saya mengetahui tujuan investasi saham saya di atas, saya bisa dengan mudah memprioritaskan koleksi saham pada perusahaan yang membagikan deviden rutin setiap tahunnya.

Kenapa harus rutin setiap tahun? 
Karena kalau tidak rutin, berarti ada peluang di tahun tertentu saya tidak mendapatkan deviden yang merupakan penghasilan yang saya harapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya nantinya.

Dan itu berarti ancaman bagi kelangsungan hidup keluarga saya 😂😅...

Oke, kita lanjut ke bagian penentuan kriteria saham pilihan saya dalam berinvestasi saham di tahun 2022 ini. 

Jika sobats juga memiliki tujuan yang mirip dengan saya, mungkin kriteria yang akan saya tulis di bawah ini akan berguna juga untuk sobats. 


Kriteria Saham Pilihan

Oh ya sobats, selain memperoleh deviden setiap tahunnya, saya juga ingin agar investasi saya semakin bertumbuh dari waktu ke waktu. 

Saya ingin agar nilai investasi bisa naik beberapa kali lipat di tahun-tahun yang akan datang, sehingga nilai uang saya tidak akan kalah dengan inflasi, bahkan memberikan imbal hasil atau nilainya akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka saya harus memiliki saham perusahaan yang nilainya bertumbuh dari waktu ke waktu.

Berikut ini cara saya menentukan kriteria saham pilihan saya:
  1. Bisnis modelnya saya pahami;
  2. Perusahaannya sudah menghasilkan laba dari aktivitas bisnisnya;
  3. Perusahaannya sudah rutin membagikan deviden minimal dalam 3 tahun terakhir;
  4. Harga sahamnya masih murah, agar saya juga bisa memperoleh capital gain nantinya; 🤭 dan
  5. Saya bisa dengan tenang memiliki saham tersebut untuk jangka panjang (investasi).

1. Bisnis modelnya saya pahami

Maksudnya disini adalah saya paham bagaimana si perusahaan memperoleh penghasilan dari bisnis yang dijalankan, atau setidaknya saya tahu produk yang dihasilkan si perusahaan.

Sehingga untuk saat ini saya tertarik untuk berinvestasi di perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods, khususnya untuk kebutuhan-kebutuhan primer.

Dimana barang-barang kebutuhan primer tentu saja akan selalu ada permintaan meskipun sedang masa krisis seperti pandemi COVID-19 kemarin. Sehingga perusahaan akan tetap memperoleh penghasilan meskipun di masa sulit.


2. Perusahaan sudah menghasilkan laba

Angka penjualan yang tinggi tidak selalu diikuti oleh laba yang tinggi.

Tidak jarang ada perusahaan yang aktivitas usahanya besar, penjualannya tinggi, namun laba bersihnya ternyata negatif atau masih dalam keadaan rugi.

Biasanya kerugian ini diakibatkan terlalu besarnya diskon atau biaya marketing yang dikeluarkan perusahaan untuk menarik konsumen.

Menurut saya pribadi, tidak ada keuntungan, berarti tidak ada deviden yang bisa dibagikan, artinya tujuan investasi saya tidak bisa tercapai jika berinvestasi di perusahaan ini.


3. Perusahaan sudah rutin membagikan deviden

Perusahaan yang sudah menghasilkan laba kadang juga tidak membagikan deviden. Mereka berfokus pada pertumbuhan modal perusahaannya dulu.

Tentu saja itu tidak buruk, hanya saja kembali mempertimbangkan tujuan investasi saya yaitu memperoleh deviden, perusahaan yang tidak membagikan deviden, berarti tidak memenuhi tujuan investasi saya.

Saya pribadi akan melihat perusahaan yang telah membagikan deviden minimal selama 3 tahun terakhir secara berturut-turut.

Saya akan mengecualikan untuk tahun 2020 dan 2021, dimana tahun tersebut memang tahun yang berat, bahkan banyak bisnis yang tutup di tahun tersebut.

Sehingga tidak dapat dipaksakan juga bahwa di tahun tersebut perusahaan terpaksa tidak membagi deviden.

Disini saya akan menitikberatkan pembagian deviden di tahun-tahun yang normal.


4. Harga saham masih murah

Bicara soal harga saham yang murah disini kita tidak bicara soal berapa rupiah yang harus kita keluarkan untuk membeli minimal 1 lot saham perusahaan tersebut.

Bicara soal murah atau mahalnya harga saham suatu perusahaan, maka kita akan bicara soal "nilai" atau bahasa kerennya "valuasi" si perusahaan.

Seberapa besar nilai kekayaan perusahaan tersebut dibandingkan harga sahamnya saat ini (PBV).

PBV atau Price to Book Value dapat kita hitung sebagai berikut:
PBV = (Harga saham saat ini) / (Book Value per lembar) 

Sedangkan Book Value kita hitung berdasarkan:
BV = (Equity) / (Jumlah saham beredar)


Lalu bagaimana mengetahui harga saham mahal atau murah melalui PBV-nya?

Secara sederhananya: 
Jika harga saham saat ini = PBV-nya, maka harga saham tersebut dikatakan di harga yang wajar.

Jika harga saham saat ini < PBV-nya, maka harga saham tersebut dikatakan sedang murah.

Jika  harga saham saat ini > PBV-nya, maka harga saham tersebut dikatakan sedang mahal. 

Namun di kenyataannya harga saham seringkali dihargai sebagai nilai perusahaan di masa mendatang, sehingga meskipun tidak baku, banyak investor sepakat PBV dikatakan murah apabila nilainya di bawah 2x.   


Selain PBV, investor juga menghitung valuasi perusahaan berdasarkan seberapa besar hasil yang bisa diberikan perusahaan dibandingkan dengan harga sahamnya saat ini (PER).

PER atau Price to Earning Ratio dapat dihitung dengan:
PER = (Harga saham saat ini) / (EPS)

Sedangkan EPS atau Earning Per Share kita hitung berdasarkan:
EPS = (Net Profit) / (Jumlah saham beredar)

Mirip seperti PBV di atas tadi, normalnya harga saham dikatakan murah apabila harga sahamnya kurang dari nilai PER-nya.

Namun kembali lagi, karena nilai perusahaan dihargai dengan harga proyeksi di masa depan berdasarkan keuntungan yang bisa dihasilkannya, maka berdasarkan PER-nya, suatu perusahaan dikatakan sahamnya sedang berada di harga yang murah apabila: 
PER-nya < 10x.


Penutup

Nah sobats, itulah tadi kriteria Saham Pilihan saya saat akan melakukan Investasi Saham.

Berdasarkan kriteria-kriteria di atas, selanjutnya di tahun 2022 ini, saya akan mencari perusahaan yang:
  1. Bergerak di bidang consumer goods.
  2. Menghasilkan laba yang bertumbuh (minimal stabil).
  3. PER-nya < 10x.
  4. Membagikan deviden berturut-turut minimal sejak 2017, 2018, 2019.
  5. Membandingkan deviden paling menguntungkan dari perusahaan-perusahaan yang telah "lolos seleksi" kriteria di atas.
  6. Membeli sahamnya secara rutin setiap ada pemasukan, dengan tujuan investasi jangka panjang.

Sekian catatan saya tentang saham kali ini, semoga dapat bermanfaat dan tujuan keuangan kita cepat tercapai... Amin.

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar